www.lakubos.com
Diberdayakan oleh Blogger.

About

Search

Berat Bayi Lahir Rendah akibat Polusi

Bagi wanita yang sedang hamil nampaknya harus lebih berhati-hati dalam melaksanakan aktifitasnya sehari-hari, karena mengakibatkan janin yang dikandungnya mengalami masalah [Sumber Berita]
Baru-baru ini sebuah studi multinasional menyimpulkan bahwa wanita hamil yang terpapar polusi udara berisiko tinggi melahirkan bayi yang berat lahirnya (birth weight) rendah.
Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengamati kondisi bumil dari 14 kota di 9 negara termasuk Seoul (Korsel), Atlanta (AS) dan Vancouver serta British Columbia (Kanada), termasuk mengkompilasi rata-rata kadar polusi udara yang terpapar pada bumil di kota-kota ini selama masa kehamilan. Sumber polusinya diketahui berasal dari kemacetan lalu lintas, pembangkit listrik hingga debu-debu yang beterbangan di udara.
Kemudian tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Payam Dadvand dari Center for Research in Environmental Epidemiology, Barcelona, Spanyol ini mengamati berat lahir bayi yang dilahirkan bumil-bumil tersebut.
Secara keseluruhan tercatat peneliti mengamati data dari sekitar 3 juta kehamilan dan persalinan. Data ini menjadikannya sebagai studi terbesar yang meneliti kaitan antara paparan polusi udara selama masa kehamilan dengan rendahnya berat lahir bayi.
Hasilnya, setiap peningkatan partikel polusi sebesar 10 microgram per meter kubik udara akan menghasilkan penurunan berat lahir bayi sebanyak 8,9 gram atau sepertiga dari satu ons dan bayi yang dilahirkan 3 persen lebih cenderung mengalami berat lahir yang rendah.
Padahal berat lahir rendah merupakan faktor risiko kematian bayi sekaligus gangguan jantung, gangguan pernafasan dan masalah perilaku ketika si bayi beranjak dewasa.
Kadar polusi yang diperoleh peneliti dari 14 kota ini tercatat beragam, mulai dari 10 hingga 70 microgram per meter kubik udara. "Itu jelas-jelas paparan yang dialami banyak orang di berbagai tempat di dunia. Yang jelas studi ini meningkatkan keyakinan kami bahwa dampak polusi udara terhadap berat lahir bayi itu benar adanya," tandas peneliti Tracey Woodruff, Ph.D., pakar kesehatan reproduksi dari Maternal-Fetal Medicine, University of California, San Francisco Medical Center.
Namun peneliti mengaku tak tahu pasti bagaimana paparan polusi udara pada bumil dapat mempengaruhi berat lahir bayinya. Mereka menduga polusi udara mempengaruhi tingkat keterikatan janin (fetus) pada plasenta, organ yang menghubungkan bayi yang sedang bertumbuh itu dengan dinding rahim dan menyalurkan zat-zat penting yang dibutuhkan janin dari sang ibu ke janinnya.
"Polusi udara bisa jadi juga memberikan tekanan pada tubuh sang ibu sehingga mempengaruhi pertumbuhan janinnya," ungkap Woodruff seperti dikutip dari myhealthnewsdaily, Kamis (7/2/2013).
Lagipula partikel polusi udara telah lama diketahui dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan pada orang dewasa, termasuk asma, penyakit jantung, diabetes dan stroke.
Untuk itu, Environmental Protection Agency (EPA) pun merekomendasikan para bumil agar mengurangi paparan partikel polusi udaranya dengan menghindari latihan fisik berat di luar ruangan, terutama di daerah atau waktu dimana kadar polusi udaranya sedang tinggi.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives.
Ditulis oleh: nGalesser - Kamis, 07 Februari 2013